Cerita
ini akan adalah sebuah pertemuan pertamaku dengan seseorang lelaki yang
sebelumnya sudah pernah mendatangi orang tuaku sebelum bertemu denganku. Lelaki
ini adalah anak dari seorang ibu, dimana ibu tersebut adalah teman dari kecil
ibuku, pasti bisa di tebak bagaimana kedekatannya, eyangku pun mengetahui
keluarga ibunya.
Berawal dari keinginan ibunya untuk menjadikanku menantu,
waktu itu aku masih berada di bangku kuliah. Berfikir untuk menikah saja
sepertinya hanya ketika sedang muak dengan tugas kuliah, padahal sebenarnya aku
belum ingin menuju jenjang tersebut. Waktu itu ibunya melihatku yang sudah
berdandan untuk pergi dan menanyakan hal yg aku sendiri sudah muak dengan
pertanyaan itu, pertanyaan itu adalah "cah ayu, kamu uda punya pacar
belum?" dengan muka sedikit bingung namun tertawa terbahak-bahak akupun
menjawab dengan santai "hahaha belum tante" dan ibunya pun langsung
tanpa basa-basi bilang "yaudah mau ya besok tante kenalin (sebut nama,yang
merupakan anaknya) mau ya?" akupun hanya bisa menjawab "yaudah bilang
mama aja tante" dengan senyum garing seperti habis mendengar lelucon
garing namun terpaksa tertawa.
Hari-hari pun berlanjut, pembicaraan pada hari itu pun
sepertinya sudah hilang di pikiranku, ya..aku tidak memperdulikan kalimat pada
hari itu, karena menurutku aku masih ingin bebas tanpa sebuah “komitmen” . Bagiku kala itu sebuah
pernikahan adalah sesuatu hal yang rumit yang akan dilalui seorang manusia,
kita sebagai perempuan harus menurut kepada lelaki seutuhnya, karena di agamaku
suami adalah surga untuk wanitanya.
Lalu pada suatu hari keluarga kami di rundung kesedihan
karena sebuah berita duka, kakak dari ibuku atau “pakdhe” saat itu meninggal,
saat itu eyang aku merasa sangat terpukul karena anak kesayangannya di panggil
oleh yang Maha Kuasa. Kami sekeluarga mencoba tetap menghibur eyang agar tidak
terus larut dalam kesedihan. Akhirnya kakak aku yang pertama mempunyai
inisiatif untuk mengajak sekeluarga makan di sebuah restoran di sebuah mall di
Jogja. Sesampainya kami disana, kami langsung makan, hingga di sebuah sela
waktu makan eyang pun berbisik kepadaku “kamu mau ya di kenalin sama (anak
tante yang sudah diceritakan diatas)” aku pun kaget dengan pembicaraan itu dan
menjawab “eyang, aku gatau siapa dia..ketemu aja belum sudah mau berbicara
tentang pernikahan” eyang pun langsung menjawab “udah anak itu baik, dan sudah
berpenghasilan..dan jangan ragu lagi dengan penghasilan dia” di situ akupun
merasa sudah tidak nyaman dengan pembahasan ini, aku rasa sudah terlalu
menyudutkan, aku pun hanya menganggukan kepala sambil tersenyum agar cepat
selesai pembahasan ini.
Beberapa kali sempat terpikirkan di benakku tentang
pembicaraan dengan eyang saat itu di restoran, mengganggu tapi penasaran, siapa
sih lelaki yang sebenarnya yang ingin dikenalkan?sangat tampan kah? Karena
setauku orang tersebut bekerja di luar negri, waktu itu yang aku tau informasi
dari ibunya dia sedang berada di daerah Amerika, Negara yang hanya aku liat di
TV atau foto-foto orang berlibur, hahaha norak sekali jika di ingat-ingat. aku
pun menanyakan ibuku, tapi tanggapan ibuku masih santai, tidak berfikiran
sampai disana.
Aku tetap melakukan aktivitas seperti biasa sebagai mahasiswa
tingkat akhir yang harus menyelesaikan tugas akhir dengan penuh perjuangan dan
revisi. Ternyata di tengah aku berjuang kami kembali di rundung duka,
iya,,,eyangku meninggal kala itu. Rasanya sedih sekali, kami berusaha tetap
menghibur eyang namun ternyata Tuhan berkehendak lain, eyang sudah tidak punya
semangat lagi. Kami pun mengabarkan berita duka ini kepada ibu lelaki itu. Dia
pun bergegas mendatangi pemakaman eyangku dengan air mata yang deras, ya..dia
juga sudah menganggap eyangku seperti ibunya sendiri.
Beberapa bulan setelah itu aku pun selesai kuliah, aku resmi
lulus dari fakultas teknik tepat 3 tahun, usaha itu juga di dapat dengan
beberapa hal senang dan sedih. Singkat cerita aku mendapat pekerjaan,
pekerjaanku berada di luar kota Jogja tetapi masih di daerah Jawa Tengah.
Ternyata pekerjaan tersebut membuatku harus training di Bogor selama setahun,
mau tidak mau aku juga harus menandatangani kontrak yang di ajukan perusahaan.
Bulan Februari pun aku dan teman-temanku berangkat ke Bogor. Dan disinilah
cerita di mulai…..
Beberapa bulan disini, mamaku mulai mengenalkan seorang
laki-laki yang merupakan anak dari teman SD nya terdahulu. Kami akhirnya
chatting via whatsapp dan hanya berlangsung sehari, karena di sisi lain aku
merasa kurang “srek”, mama aku pun
mengahargai keputusanku. Lalu beberapa bulan kemudian datanglah whatsapp dari
mama mengabarkan kalau “lelaki” yang
dari jauh sana ingin berkenalan denganku, waktu itu dia mendapatkan jatah libur
selama 2 bulan, karena 8-9 bulan dia harus bekerja tanpa libur, tetapi aku
harus tetap focus bekerja, hahaha lucu rasanya waktu itu, oke aku sebut disini
namanya adalah R.
Awal perkenalan kami sangatlah konyol, karena yang pertama
menghubungiku adalah ibunya, karena anaknya malu kalau harus langsung
menghubungiku duluan. Rasanya kala itu seperti anak TK yang harus diantarkan
ibunya agar tidak tersesat,hahaha… kami pun akhirnya chattingan via whatsapp.
Pernah pada suatu pagi dia meneleponku, waktu itu aku sudah jam masuk kantor
jadi menerima teleponku pun harus keluar ruangan. Seketika jantungku berdetak
kencang sekali, benar-benar langsung lemas menerimanya.. batinku kenapa aku
harus deg-degan?kan belum ada perasaan apa-apa? Ah, kamu terlalu berlebihan
saja menanggapinya. Dalam percakapan itu dia menanyakan apa aku sudah di kantor
apa belum, karena ibunya memintanya untuk meneleponku, aku jawab sudah…dan dia
pun merasa bahwa dia menelepon di jam yang kurang tepat, aku pun memakluminya
karena memang baru kenal.
Hari-hari di lalui kami pun masi berkomunikasi via whatsapp,
kadang kami voice call whatsapp hingga berjam-jam, obrolan kami pun masih tentang
pekerjaan apa yang dia jalani, dan pekerjaan apa yang aku lakukan, membahas
Ibunya dan aku mempunya hobi yang sama yaitu menjahit dan menonton drama korea.
Sampai pada suatu malam ada pembicaraan serius, ya…dia sudah mendatangi orang
tuaku dengan maksud dan tujuan yang serius, oke.. ini adalah pertama kali aku
mengenal lelaki yang langsung berbicara serius tentang sebuah masa depan. Saat
itu aku amat sangat speechless dengan pernyataannya, pernyataan dengan selalu
berbicara “kalo kita jadi” akan mempunyai
rencana dari A-Z, karena dia adalah lelaki yang sudah cukup matang umurnya maka
yang dibicarakan adalah planning ke depannya, hal yang tidak pernah aku
pikirkan dia lotarkan yang membuatku langsung berbicara `bentar deh…aku masi
speechless dengan pernyataan yang serius itu tadi` dia pun tertawa dan berkata
bahwa cukup aja aku dengar dan kamu focus aja untuk tetap bekerja.
Beberapa hari kemudian aku pun punya rencana untuk pulang ke
Jogja, karena rencana kepulanganku tidak sesuai dengan keberadaan dia selama di
Jogja. Kepulanganku yang mendadak ini awalnya aku berfikir menengok kedua orang
tua ku yang beberapa hari sebelumnya bercerita kalau ibuku sempat harus di
nebulizer karena sesak dadanya, siapa sih anak yang tidak cemas dengan keadaan
orang tua seperti itu dan posisi kedua orang tuaku memang hanya berdua di
rumah, kakak aku semuanya berada di Kalimantan. Tapi aku berfikir wah sekalian
saja aku bertemu R, kapan lagi aku bisa bertemu walaupun kepulanganku ini cuma
sebentar.
Singkat cerita hari H pun tiba, aku bekerja seperti biasa
namun masuk hanya setengah hari. Setibanya aku di bandara entah mengapa
jantungku berdegup kencang dan rasanya gelisah sekali, karena sebelum berangkat
ke bandara mama bilang kalau dia juga mau ikut menjemputku jadi jangan biasa
aja pakaiannya. Tapi ternyata kegelisahanku bisa mereda, dia tidak jadi ikut
menjemput karena ada temannya yang dating, aku pun pulang dengan hati tenang.
Keesokan harinya ibunya dan ibuku berjanjian untuk datang ke
rumahku untuk mempertemukan kami berdua. Hari itu lebih kencang rasanya
jantungku berdetak, tapi ternyata mereka sedikit lama datangnya karena sesuatu
hal, aku pun ternyata sempat tertidur, hahaha menunggu kadang membosankan, tapi
menunggu kali ini penuh dengan rasa deg-degan. Selang beberapa lama mereka
dating, aku pun berusaha membenarkan jilbab sebagus mungkin walopun ternyata
terlihat biasa aja. Saat aku keluar dari kamar untuk bersalaman sudah tidak tau
lagi harus berbuat apa, ibunya pun langsung bilang “ini lho yang mau kenalan
sama kamu” aku senyum tidak terkontrol dan dia pun juga membalas ketawa. Di
situ rasanya mulai salting setengah mati, pasti bagi kalian yang pernah
merasakan bagaimana rasanya pertama kali ketemu orang yang selama ini hanya
berbicara lewat pesan singkat di handphone, seru bukan? J
Kami berempat pun berbincang, aku cuma bisa diam kareana
takut salah mengatakan sesuatu hal, di situ dia pun mencuri-curi pandang ke aku
dengan senyum yang membuat aku tambah malu, walaupun aku sedang tidak melihat
langsung ke arah dia, tapi aku merasakannya. Hingga ibunya pun meminta kami
untuk membelikan makanan di luar (sebenarnya ini trik ibu-ibu yang kegirangan
supaya kami bisa pergi berdua), kami pun langsung pergi untuk membelikannya.
Sesampainya di warung makan kami berdua pun makan, di situlah rasanya aku sudah
bisa mengontrol diri, kami mulai berbicara mengenai pekerjaan dan hal
sebagainya. Setelah itu kami balik ke rumah, ibunya menanyakan kenapa kami lama
sekali, anaknya pun hanya menjawab dengan tertawa. Perbincangan di lanjutkan
berempat, di sela perbincangan ada rencana untuk bisa pergi berdua lagi besok,
dengan alas an mengantarkanku membeli produk herbal untuk menjaga kesehatanku,
akupun hanya meng-iya-kan.
Keesokan harinya aku bangun pagi seperti biasa dengan
perasaan sedikit senang, aku berolah raga sedikit karena prosentasi tambah
melebar saat pulang ke rumah adalah 90% itupun jika di dahului dengan sebuah
niat yang tulus, hahaha… lalu handphone ku berdering, ada pesan darinya..pesan
yang membuatku dan ibuku kecewa,ya…dia membatalkan janji untuk pergi berdua
kala itu, rasanya ingin marah, tapi aku menanamkan dalam hati dan mengatakan
kepada ibuku, aku mengatakan “ma,sudah ngga usah marah dengan ini, aku ngga
kecewa kok, karena awal niat kepulanganku adalah menengok mama” ibuku berusaha
tersenyum walaupun di dalam hatinya pasti merasa sedih melihat anaknya yang
gagal bahagia hari itu. Aku membuang segala kekecewaanku dengan pergi bersama
kedua orang tuaku ke sebuah mall, entah kenapa mall adalah tempat yang bisa
membuatku merasa senang walaupun tidak membeli apapun, kala itu hal yang
membuat hatiku tidak jadi kecewa adalah aku membeli sebuah baju. Percaya atau
tidak, mungkin ada beberapa wanita seperti diriku, yang kadang meluapkan
amarahnya dengan berbelanja, apapun itu. Saat aku berjalan tidak lupa aku tetap
menghibur mamaku yang masih merasa kecewa…
Hari pun berganti, hari itu adalah hari terakhir aku di
Jogja, it means hari terakhir kesempatan bertemu dengannya. Handphoneku kembali
berdering, dia pun menanyakan kemana hari ini kemana akan pergi, aku yang biasa
dengan hal spontan hanya bilang “yaudah sambil jalan aja” dan dia adalah orang
dengan tipe kalau jalan harus jelas tujuannya kemana, tuhkan.. hal sepele gini
mulai muncul di perbincangan kami. Setibanya dia di rumah dia meminta maaf, dia
pasti tau aku kecewa tapi aku berusaha tidak cemberut di hadapannya, bukan
pencitraan, tapi memang kesan yang baik harus dimulai dari awal. Kami pun
akhirnya pergi, aku bilang mau makan di tempat ini, dia mengiyakan tetapi
ternyata harus antri dan dia adalah tipe yang nggak sabar nunggu ngantri diem aja,
akhirnya kami berpindah haluan ke sebuah café, duduklah kami di sebuah sudut
ruangan café. Berbincanglah kami sambil mendengar rintikan hujan yang cukup
deras di luar café.
Perbincangan kali ini lebih mendalam, aku menyampaikan apa
yang menjadi pertanyaan papaku, sebenarnya kemana arah kita ini?
Dia pun menjawab dengan ekspresi yang kaget, aku tau ini adalah
pertanyaan yang frontal untuk sebuah pertemuan yang baru beberapa kali ini. Dia
pun menjelaskan maksud dan tujuan sebenarnya, iya..dia berniat untuk
meminangku, tapi dia butuh waktu untuk mengatakannya kepada orang tua ku… bukan
main rasanya waktu itu perasaanku, tapi dia tidak ingin ada sebutan pacaran
kali ini, aku pun berfikir cepat mengiyakan saja keputusannya. Banyak hal yang
kita bicarakan sebenarnya, namun hanya ingin aku ingat di dalam fikiran saja
dan menunjukannya dalam sebuah doa sebagai pertanyaanku kepada sang
pembolak-balik perasaan.
Hujan pun reda, dan kami rasanya sudah kenyang. Lalu dia
bertanya mau kemana lagi? Apa mau pulang? Aku yang masih ingin bertahan berdua
memintanya untuk kita pergi nonton bioskop, ada film horror yang ingin sekali
aku lihat tetapi dia sepertinya merasa takut. Setibanya kami di bioskop masih
berdebat mau menonton apa, aku paksa melihat thriller semua film tapi dia tidak
mau, akhirnya dia bilang “yaudah kamu kayaknya lagi pengen banget nonton pengabdi
setan, kita liat itu aja deh” aku ketawa dan meyakinkan “beneran?ntar mas nggak
ketakutan apa?” dia pun hanya menjawab dengan lirikan. Kami pun menonton, saat
itu aku yang penakut liat film tersebut berusaha tidak menutup mata ternyata
dia menutup matanya dengan jaketnya, lucu rasanya melihat dia yang ketakutan
dengan film. Sebenarnya aku sudah lama bilang sama dia kalau pengen lihat film ini,
karna dia sudah pernah liat film versi pertama tahun 80’an kalu tidak salah. Selesai
film lampu menyala, aku tertawa melihatnya yang masih takut. Sepulangnya kami
dari bioskop ternyata jadwal keretaku mundur, kami pun akhirnya tetap pulang
agar aku tidak terlalu kelelahan karena keesokannya aku harus lanjut bekerja.
ini adalah tiket pertama kalinya aku nonton berdua dengan lawan jenis
terlihat norak memang ☺☺☺
Di sepanjang kami pulang aku menanyakan kepadanya jika nanti
dia sudah balik ke luar negri adakah niat dia untuk tetap menghubungiku? Dia pun
menjawab, jika ada kesempatan dan jika sedang ada jaringan internet maka akan
menghubungiku, karena kartu internet atau wifi di luar negri sangatlah mahal,
akupun memakluminya. Aku menanyakan pertanyaan tersebut karena aku masih
mempunyai trauma dengan laki-laki yang tiba-tiba menghilang setelah sebuah
pertemuan, percayalah sebuah trauma tetap akan ada walaupun laki-laki yang
sedang di hadapi sudah mempunyai niatan sungguh-sungguh. Tiba lah aku di rumah,
di kembalikannya lagi aku kepada orang tuaku lalu dia pun berpamitan. Aku bersiap-siap
untuk kembali ke tanah rantau. Setibanya aku di stasiun aku berpamitan dengan
ibunya dan yang pasti dia via whatsapp, namun jawaban singkat yang aku
dapatkan.
To
be continued…
